Ninja Kita Generator

  • Email Ninjakita
  • Pass word
  • Select Cheat
  •  

Archives

gravatar

Tata Surya Paling Aneh


Tata Surya Paling AnehTim astronom menemukan tata surya yang terdiri dari dua planet raksasa yang mengitari bintang ganda bernama Uz For. Tata surya seperti ini, menurut tim astronom, sangat unik.

Dua bintang, katai merah dan katai putih, yang menjadi pusat tata surya itu saling mengitari dengan waktu revolusi hanya beberapa jam. Karena salah satu bintang akan melewati muka bintang lainnya, planet yang mengitari akan sering menikmati gerhana.

Berdasarkan perhitungan tim astronom, dua planet yang mengitari bintang ganda itu setidaknya memiliki massa masing-masing 6 dan 8 kali Jupiter. Sementara itu, waktu yang diperlukan oleh planet untuk melakukan satu revolusi masing-masing 5 dan 16 tahun. Sistem keplanetan ini terlalu jauh untuk secara langsung dicitrakan.

Sistem bintang ganda menjadikan planet dalam sistem tersebut sangat tidak bisa dihuni. Bintang katai putih terus-menerus mencuri material dari permukaan bintang katai merah sehingga material seolah mengalir di angkasa bak sungai. Material itu kemudian terpanaskan hingga jutaan Kelvin, membanjiri tata surya dengan sinar-X yang mematikan.

Pengamatan terhadap bintang ganda dan dua planetnya itu dilakukan dengan Southern African Large Telescop (SALT) dan data hasil observasi selama 27 tahun dari beberapa observatorium.

Tim astronom, yang salah satu anggotanya adalah Dr Gavin Ramsay dari Observatorium Armagh, menerbitkan temuannya ini di jurnal Monthly Notices of Royal Astronomical Society dengan judul "Possible detection of two giant extrasolar planets orbiting the eclipsing polar UZ Fornacis". Jika kelak terbukti kebenarannya, maka tata surya itu akan menjadi tata surya baru yang paling aneh.

gravatar

Jumlah Air Terbesar di Antariksa


Jumlah Air Terbesar di Antariksa


 
Jumlah air terbanyak di antariksa ditemukan dalam bentuk awan berumur 12 miliar tahun dan mengandung air 140 triliun kali jumlah seluruh air yang ada laut Bumi. Temuan oleh sekelompok astronom yang dipimpin Matt Bradford dari NASA ini menunjukkan bahwa air sudah ada sejak pembentukan alam raya.

"Temuan ini membuat teori munculnya air satu milar tahun lebih dekat ke peristiwa 'Big Bang'," kata Alberto Bolatto dari University of Maryland. 

Astronom menemukan awan tersebut menggunakan dua teleksop yang berbeda--satu teleskop di Hawaii, lainnya di California. Saat pencarian, mereka sudah berteori bahwa uap air sudah muncul di awal-awal pembentukan jagat raya. Bagi mereka temuan ini bukan hal yang mengejutkan. "Ini cuma bukti lain," kata Bradford. Yang mengejutkan bagi mereka adalah ukurannya yang sangat besar.

Awan tersebut mengelilingi lubang hitam besar--disebut kuasar--yang dikenal dengan nama APM 08279+5255. Awan tersebar di lubang hitam dengan jarak beberapa ribu tahun cahaya. Temperatur di awan diperkirakan minus 53 derajat Celcius dan kepekatannya 300 triliun kali atmosfer Bumi.

Lubang hitam yang lokasinya 12 miliar tahun cahaya dari Bumi tersebut memiliki ukuran 20 miliar kali lebih besar dari matahari dengan energi yang jauh lebih besar pula.

Temuan uap air dalam jumlah besar yang mengelilingi APM 08279+5255 juga membuka pengetahuan baru tentang kuasar. "Tampaknya ada gas yang cukup banyak bagi lubang hitam sebelum lubang itu membesar enam kali lipat ukurannya sekarang. Kepastian hal tersebut akan terjadi masih belum jelas. Beberapa gas bisa terbentuk menjadi bintang atau malah terlontar dari kuasar," demikian dijelaskan dalam laporan yang diterbitkan Astrophysical Journal Letters. (Sumber: Space.com)

gravatar

Molekul Oksigen Ditemukan di Luar Angkasa

Molekul Oksigen Ditemukan di Luar AngkasaMolekul oksigen ditemukan di luar angkasa, tepatnya di sebuah awan pembentuk bintang baru dekat Orion. Molekul ini ditemukan peneliti menggunakan European Space Agency (ESA) dibantu laboratorium luar angkasa Herschel. Jumlah molekul yang ditemukan jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Jumlah yang sedikit ini menimbulkan pertanyaan: ke mana oksigen yang lain?" Peneliti NASA memperkirakan molekul oksigen yang lainnya telah membeku dan tidak dapat ditemukan. Namun, jika perkiraan ini benar, es seharusnya akan mencair di wilayah yang hangat.

Paul Goldsmith, peneliti NASA, menggunakan pencitraan inframerah dari Herschel untuk melihat ke Orion dan meneliti keadaan dari molekul oksigen tersebut. Kemudian, mereka menemukan bahwa molekul oksigen berada di tengah-tengah jutaan molekul hidrogen. "Hal ini menjelaskan bahwa oksigen bersembunyi di suatu tempat. Kita masih belum menemukan jumlah yang besar oksigen, hal inilah yang masih menjadi pertanyaan. Kami masih belum tahu apa yang spesial dari tempat kami menemukan," ungkap Paul.

Penelitian mengenai temuan ini akan dilanjutkan. Goran Pilbratt dari ESA percaya bahwa penemuan molekul oksigen ini merupakan suatu terobosan di dunia antariksa. "Terima kasih kepada Herschel, sekarang kita tahu bahwa molekul oksigen memang benar-benar ada di luar sana. Memang, masih banyak pertanyaan, namun kemampuan Harschel membantu kita untuk mencari petunjuk dan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut," kata Goran. (Sumber: Science Daily)

gravatar

Bumi Pernah Punya Dua Bulan


Bumi Pernah Punya Dua BulanBumi ini diperkirakan memiliki dua bulan miliaran tahun yang lalu. Bulan kedua itu hilang setelah menabrak bulan yang kita lihat saat ini. 

Pecahan-pecahannya mengganggu permukaan bulan yang saat itu masih mendingin. Teori ini menjelaskan perbedaan permukaan bulan yang menghadap Bumi dengan permukaan yang tidak menghadap Bumi. Permukaan bulan yang mengadap Bumi jauh lebih mulus daripada permukaan bulan di sisi lain.

"Kedua bulan terbentuk setelah puing-puing yang dilontarkan Mars menabrak Bumi di awal pembentukan," jelas para peneliti dari University of California, Santa Cruz. Bulan kedua lebih kecil daripada bulan saat ini. Ukurannya hanya sepertiga puluh bulan yang kita kenal. Posisinya, 60 derajat di depan atau belakang bulan.

Erik Asphaug, dari University of California, dan Martin Jutzi, dari University of Berne, menjelaskan bahwa kedua bulan berdampingan selama 10 juta tahun. "Waktu yang cukup lama untuk benar-benar jadi solid," kata Aspaug yang seorang ahli keplanetan. Gravitasi bumi secara perlahan menyebabkan lintasan kedua bulan berubah, ditambah lagi munculnya gravitasi matahari. Gangguan tersebut membuat lintasan bulan yang lebih kecil berubah.

Saat kedua bulan itu bertabrakan, bulan yang kecil hancur dan puing-puingnya menutupi setengah dari permukaan bulan yang besar. "Karena itulah salah satu permukaan bulan agak aneh," jelas kedua peneliti yang membuat simulasi komputer untuk mengetahui kejadian tabrakan.

Pada sisi yang tampak dari Bumi, permukaan bulan didominasi oleh dataran lava yang disebut "maria". Sisi mengantung potasium, berbagai unsur yang jarang ditemui di Bumi, dan fosfor--atau dikenal dengan istilah "KREEP". Sementara itu, permukaan bulan di sisi yang lain bergunung dengan kerak yang tebal.

Teori lain menyebutkan, maria merupakan hasil dari gravitasi Bumi. Asphaug dan Jutzi membantah teori tersebut dan mengatakan bahwa saat bulan kecil menabrak, mereka meluncurkan KREEP ke sisi bulan yang lain. "Tabrakan tidak menciptakan kawah yang besar, hanya sedikit lebih besar dari penabrak," papar Asphaug.

Kebetulan, dalam waktu dekat NASA akan mengirim sepasang satelit kembar untuk memetakan bulan dan mempelajari komposisi bagian dalam bulan. Teori Asphaug dan Jutzi akan dibuktikan. (Sumber: Nature, Popsci)

gravatar

Bukti Aliran Air Garam di Mars


Bukti Aliran Air Garam di MarsBukti aliran air garam ditemukan di lereng Mars. NASA menyatakan bahwa inilah bukti pertama temuan cairan bergerak di planet merah tersebut.

"Kami sudah menemukan beberapa bukti adanya aliran air di Mars," kata Michael Meyer, pimpinan peneliti untuk program penjelajahan Mars. Data tersebut dikumpulkan dari Mars Reconnaissance Orbiter yang diberikan tugas baru, yakni menemukan bentuk kehidupan.

Mars Reconnaissance Orbiter yang sudah mengelilingi Mars sejak 2006 telah mendapati beberapa bentuk yang ditengarai sebagai aliran air di beberapa lokasi. Di kawah Newton yang terletak di belahan selatan misalnya, ada sebentuk garis sepanjang beberapa lereng curam dan menghilang di tempat bertemperatur dingin. Selama tiga tahun, High Resolution Imaging Service Science Experiment di alat pengorbit sudah merekap banyak aliran di tujuh lokasi.


"Penjelasan terbaik saat ini adalah aliran air garam, meskipun studi ini belum membuktikan hal tersebut," kata Alfred McEwen dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona. "Masih misteri, tapi bisa dipecahkan dengan penelitian dan percobaan lebih lanjut," tambah McEwen.

Sampai saat ini, belum ada air dalam bentuk cair ditemukan di Mars meskipun para peneliti sudah mendapati ada es di kedua kutub. Temuan air akan membuktikan bahwa Mars memiliki kehidupan primitif karena semua makhluk butuh air untuk hidup.

Andai saja air dalam bentuk cair ada di Mars, misteri yang harus disingkap selanjutnya adalah asal air. "Apakah mereka kanal menuju kolam yang lebih luas dan dalam? Apakah mereka hanya cairan yang terperangkap?" kata profesor ilmu geologi Lisa Pratt. (Sumber: VoA, Space.com)

gravatar

NASA Ingin Bangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar di Angkasa


NASA Ingin Bangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar di AngkasaNASA ingin membangun stasiun pengisian bahan bakar di luar angkasa, sebuah fasilitas penting yang diperlukan untuk penjelajahan luar angkasa yang lebih jauh--bahkan untuk hidup di luar angkasa.

"Menyimpan bahan yang mudah meledak, seperti hidrogen dan oksigen cair, dalam suhu rendah penting untuk misi jangka panjang," demikian dinyatakan NASA. Jadi pembuatan stasiun pengisihan bahan bakar tidak sesederhana membuat SPBU di Bumi. Bahan bakar roket berbentuk cairan pada suhu rendah (kriogenika). Jika tidak disimpan dalam suhu yang tepat serta perlindungan yang cukup, cairan bisa mendidih dan berubah menjadi gas.

Stasiun pengisian ini penting mengingat misi-misi NASA berikutnya adalah mengirim manusia ke asteroid pada 2025 dan ke Mars pada pertengahan 2030-an. Pengisian bahan bakar akan dilakukan di orbit pesawat atau di permukaan planet atau bulan.

NASA sudah menunjuk empat perusahaan untuk melakukan studi terhadap fasilias ini: Analytical Mechanics Associates Inc., Ball Aerospace and Technologies Corporation, Boeing, dan Lockheed Martin Space Systems. Secara total, NASA telah menghibahkan 2,4 juta dolar AS kepada keempat perusahaan tersebut.

"Setiap perusahaan harus menghasilkan laporan mengenai teknologi manajemen cairan kriogenika, kemampuan dan infrastruktur untuk kelangsungan stasiun pengisian bahan bakar, serta kemungkinan penggunaan sumber daya manusia di luar angkasa," jelas NASA dalam sebuah pernyataan. Penelitian akan fokus pada jarak antara teknologi yang berkembang saat ini dengan teknologi yang dibutuhkan stasiun pengisian bahan bakar.

Selama pengujian program ini, NASA akan melakukan sebuah uji penerbangan. Untuk tujuan yang sama, NASA juga melakukan percobaan yang disebut "Robotic Refueling Mission" di International Space Station pada bulan Juli lallu. Misi ini dilakukan terhadap Atlantis. (Sumber: Space.com)

gravatar

Antimateri Terlihat di Sabuk Van Allen

Antimateri Terlihat di Sabuk Van Allen
Antiproton yang merupakan barisan tipis antimateri terlihat untuk pertama kalinya di Sabuk Van Allen. Diperkirakan, magnet bumi telah menjebak antimateri tersebut, hingga dapat terlihat.

Payload for Antimatter Matter Exploration and Light-nuclei Astrophysics (PAMELA) yang diluncurkan pada tahun 2006 inilah yang menemukan antiproton tersebut. Partikel sinar kosmos yang merupakan molekul pembentuk atmosfer bumi, terperangkap di sabuk Van Allen merupakan daerah magnet Bumi. 

Saat PAMELA melewati anomali Atlantik Selatan, ribuan antiproton terlihat. Jumlah antiproton ini jauh di atas perkiraan para peneliti sebelumnya. Para peneliti mengatakan, ini bukti bahwa Van Allen menahan antiproton hingga antiproton tersebut bertemu dengan benda di atmosfer, atau saat cahaya menyinari mereka.

Alessandro Bruno dari University of Bari berkata, "Barisan ini adalah sumber antiproton yang paling dekat dengan bumi. Antiproton dapat hilang dalam interaksi dengan konstituen atmosfer, khususnya saat di ketinggian rendah."

Selain menemukan teori dari terperangkapnya antimateri ini, kemungkinan lain dari fungsi antimateri pun terungkap. Para ilmuwan mengatakan, mungkin untuk masa depan, antimateri dapat menjadi bahan bakar pesawat luar angkasa. (Sumber: BBC)

gravatar

Citra Kalung Emas di Luar Angkasa Tertangkap Kamera

Citra Kalung Emas di Luar Angkasa Tertangkap Kamera
Wide Field Camera 3 pada Teleskop Luar Angkasa Hubble menangkap citra untaian "kalung emas" di luar angkasa pada 2 Juli 2011 lalu. Gambar tersebut merepresentasikan bagian sebuah nebula bernama PN G054.2-03.4 atau Nebula Kalung.

Dalam citra yang ditangkap Hubble, struktur kalung emas di nebula tersebut dibungkus oleh bayangan berwarna yang sebenarnya gas berkerapatan tinggi. Ada tiga macam gas yang terdeteksi, hidrogen (biru), oksigen (hijau), dan nitrogen (merah).

Berdasarkan publikasi NASA, Senin (8/8), diketahui bahwa adanya struktur kalung emas berkaitan dengan sejarah pembentukan nebula. Ini terkait dengan proses bintang yang menua bisa melahap bintang lain di dekatnya dan dampak yang diakibatkannya.

Mulanya, ada dua bintang yang saling mengorbit dengan jarak dekat. Sekitar 10.000 tahun lalu, bintang yang ukurannya lebih besar menua, mengembang, dan melahap bintang lainnya. Meski demikian, bintang yang kecil tetap eksis dan mengorbit "di dalam" bintang besar, meningkatkan kecepatan rotasinya.

Bintang yang lebih besar pun berputar begitu cepat sehingga gas yang menyelimutinya mengembang. Karena adanya gaya sentrifugal, kebanyakan gas "melarikan" diri dari bagian ekuator bintang dan membentuk struktur kalung yang berwarna terang.

Lalu, di manakah pasangan bintang yang disebut-sebut? Dalam citra yang ditangkap Hubble, pasangan bintang tampak sebagai titik kecil berwarna terang di tengah kalung, diselimuti bayangan dominan warna hijau yang sesuai keterangan adalah oksigen.

Pasangan bintang diketahui berjarak sangat dekat, hanya beberapa juta kilometer. Kedua bintang mengorbit satu sama lain begitu cepat dengan periode hanya lebih sedikit dari satu hari. Pasangan bintang dan bagian keseluruhannya, Nebula Kalung, terletak pada jarak 15.000 km di konstelasi Sagitta. 

gravatar

Ada Nebula Berbentuk Bola


Ada Nebula Berbentuk Bola
Sebuah bintang mengeluarkan gas yang membentuk bola berwarna biru. Temuan bentuk yang unik ini memberi petunjuk baru dalam pembentukan nebula.

Nebula berbentuk bola tersebut diberi nama "Kronberger 61", sesuai dengan nama penemunya, Matthias Kronberger, seorang astronom amatir. Kronberger mendapati keberadaan nebula tersebut pada Januari 2011 ketika meneliti foto-foto digital hasil survei sejak tahun 1980-an. Kronberger menginformasikan temuannya kepada astronom profesional dari Gemini Observatory di Hawaii yang kemudian meneliti lebih lanjut dan menghasilkan gambar versi berwarna.

Kronberger 61 terletak sekitar 13.000 tahun cahaya di daerah rasi bintang Cygnus. Bentuknya nyaris bulat sempurna--bentuk yang aneh dibandingkan sekitar 3.000 nebula yang pernah ditemukan. "Sedikit sekali nebula yang sangat bulat. Biasanya mereka memanjang atau berbentuk seperti kupu-kupu atau objek lain," kata astronom George Jacoby dari Giant magellan Telescope Organization di Pasadena, California, Amerika Serikat, yang membantu pembuatan gambar Kronberger 61 menggunakan Gemini.

Nebula terjadi ketika sebuah bintang melebur hidrogennya menjadi helium, dilanjutkan dengan perubahan helium menjadi karbon. Saat itu, bintang menjadi tidak stabil dan membengkak. Inti planet yang panas mulai kembang-kempis, membuat lapisan gas terluar meluruh. Saat itulah menjadi tahap awal munculnya nebula. Ketika inti planet terekspos, radiasi panasnya melontarkan gas, membuatnya tampak berpendar.

Proses pembentukan struktur nebula yang rumit saat ini masih jadi perdebatan. Sebuah pendapat mengatakan bahwa bentuk nebula dipengaruhi oleh gaya gravitasi benda langit di sekitar bintang, seperti planet besar. Pendapat lain menyebutkan bahwa bentuk tidak perlu dibantu oleh benda langit lain.

"Dalam kasus Kronberger 61, kita akan ketahui satu tahun dari sekarang, setelah teleskop Kepler berhasil meneliti bintang di pusat nebula," kata Jacoby. Jika bintang terlihat redup dan terang secara periodik, kemungkinan pembentukan nebula dibantu oleh benda langit lain. Saat redup, kemungkinan ada objek yang lewat di antara Bumi dan bintang. Objek itulah yang membantu pembentukan nebula. (Sumber: National Geographic News)

gravatar

Akhirnya terdeteksi semesta lain?

Sebuah melihat semua-langit radiasi latar belakang gelombang mikro.
Besar seperti itu, alam semesta kita mungkin hanya satu dari banyak, mengambang semua dalam hampir tak terduga "multiverse," kata para ilmuwan. Masalahnya adalah, belum ada cara untuk menguji gagasan tersebut.
Sekarang, meskipun, fisikawan mengatakan mereka telah menemukan cara untuk mendeteksi "memar" dari tabrakan diakui kosmos kita dengan semesta lain.
Tim internasional telah menciptakan algoritma komputer baru untuk berburu penyimpangan seperti di alam semesta kita, yang mereka katakan akan berbentuk disk-pikirkan, sementara merata melingkar yang terjadi ketika benjolan pantai satu bola menjadi lain.
Karena multiverse kemungkinan akan memperluas begitu cepat sehingga alam semesta yang akan ditarik jauh terpisah lama setelah penciptaan mereka, tabrakan mungkin akan terjadi hanya selama bayi alam semesta kita.
Untungnya, teleskop modern mampu untuk mempelajari semacam gambar bayi samar alam semesta itu: latar belakang gelombang mikro kosmik . CMB adalah radiasi yang dipancarkan oleh plasma panas yang mendominasi alam semesta sampai sekitar 380.000 tahun setelah ledakan besar , yang diperkirakan telah terjadi lebih dari 13 miliar tahun lalu.
"Untuk cukup lama, orang telah menduga mungkin ada gelembung alam semesta lain. Tapi mereka pikir ini benar-benar diuji," kata fisikawan teoritis Matius Johnson dari Perimeter Institute.
"Kami sekarang memiliki cara untuk mencari sinyal yang diprediksi oleh teori Bahwa kita bisa menguji ide-ide ini, periode,. Sangat besar"-dan karena sebagian besar untuk pengembangan perangkat lunak baru dan pemetaan peningkatan CMB, kata Johnson , co-penulis dari dua studi baru-baru ini menggambarkan algoritma baru yang akan diterbitkan dalam isu-isu masa depan jurnal Physical Review Letters dan Physical Review D .
Cosmic penyok atau Pola Acak?
Multiverse, jika ada, mungkin telah bermunculan keluar dari fluktuasi kacau ruang kosong.
Beberapa "gelembung" alam semesta mirip dengan kita sendiri, tapi mungkin dengan hukum-hukum fisika yang sedikit berbeda, akan muncul pada waktu yang sama dan menabrak satu sama lain sebelum menyebar di seluruh multiverse.
Algoritma baru menawarkan sistematis, statistik yang didukung cara untuk mencari bukti yang halus ini crash mungkin dalam pola sebagian besar kelancaran sesuatu CMB-yang mungkin mustahil bagi manusia saja.
Sementara orang-orang baik di melihat sulit untuk mendeteksi pola, kita juga rentan untuk melihat hal-hal yang tidak apa yang mereka tampak-sebuah wajah di Mars , misalnya.
"Orang-orang cenderung untuk mengenali pola-pola apakah atau tidak mereka ada. Dengan sesuatu seperti CMB yang sangat samar dan sangat halus, Anda perlu tahu apakah [anomali] terjadi secara acak atau membutuhkan sesuatu yang ekstra" telah menyebabkan itu, kata kosmolog Sean Carroll dari Caltech, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
"Tim ini tidak ingin tertipu dengan berpikir pola lebih dari kebisingan hanya acak."
Menjanjikan Hasil
Algoritma telah, sejauh ini, ditemukan 15 fitur menarik. Empat ini terlihat sangat menjanjikan, namun analisis statistik menunjukkan kebetulan adalah penjelasan terbaik untuk fitur, menurut co-penulis Johnson.
Ini mungkin hanya bahwa peta saat CMB hanya tidak cukup tajam untuk menangkap pergeseran mungkin sedikit yang akan menunjukkan hit antar-universal dan lari.
Dengan itu dalam pikiran, Johnson dan rekan-rekannya yang cemas menunggu data baru dari teleskop ruang angkasa Planck , yang merekam CMB dalam resolusi tiga kali lebih baik dari peta CMB paling baru, dibuat menggunakan Wilkinson Microwave mengorbit Anisotropi Probe (WMAP).
Planck pengumpulan data dijadwalkan untuk menyelesaikan akhir tahun ini, tetapi akan memakan waktu sampai Januari 2013 untuk membersihkannya, menghapuskan distorsi yang disebabkan oleh gangguan dari benda-benda angkasa dekat dengan kita dalam waktu dan ruang dari CMB.
Besar, menghancurkan Bumi Penemuan?
Bahkan dengan data yang lebih baik dari Planck, menemukan bukti smashup semesta-ke-alam semesta adalah sebuah permainan kesempatan, berkat hasil yang mungkin hampir tak terbatas.
Tabrakan mungkin menghancurkan alam semesta sebelum orang bisa mengamati bukti tumbukan atau terlalu lembut untuk meninggalkan bukti terdeteksi belakang. Bahkan mungkin ada beberapa tabrakan yang mengaburkan bukti satu sama lain.
Jika tabrakan besar terjadi dan terdeteksi, bagaimanapun, mereka akan memiliki meninggalkan sesuatu-suhu dingin, yang hangat, penyimpangan dalam kepadatan materi, atau gangguan penting lainnya.
Johnson dan rekan-rekannya adalah menjaga algoritma umum untuk menemukan perbedaan yang berarti pada semua dibersihkan-up Planck data.
"Ini adalah tembakan panjang. Tapi itu akan menjadi besar, penemuan earthshattering bahwa itu layak usaha," kata Caltech Carroll.
"Jika orang-orang menemukan multiverse, selamanya akan mengubah cara kita memandang alam semesta kita sendiri."

gravatar

Ditemukan Planet Darkest: Batubara-Hitam, Ini Hampir Cahaya Tidak Mencerminkan

Suatu ilustrasi menunjukkan planet baru ditemukan.
Mungkin sulit untuk membayangkan planet hitam daripada batu bara, tapi itulah yang astronom mengatakan mereka telah menemukan di galaksi rumah kami dengan teleskop ruang angkasa NASA Kepler .
Mengorbit hanya sekitar tiga juta mil dari nya bintang , Jupiter ukuran planet raksasa gas, dijuluki TrES-2b, dipanaskan hingga 1.800 derajat Fahrenheit (980 derajat Celcius). Namun dunia ternyata tinta tampaknya mencerminkan hampir tidak ada cahaya bintang yang bersinar di atasnya, menurut sebuah studi baru.
"Menjadi kurang reflektif dari batubara atau bahkan cat akrilik terhitam-ini membuat jauh planet paling gelap yang pernah ditemukan," penulis utama studi David Kipping kata.
"Jika kita bisa melihat dari dekat akan terlihat seperti bola di dekat-hitam gas, dengan nada yang agak merah menyala itu-sebuah eksotis yang benar di antara exoplanet," tambah Kipping, astronom dari Harvard-Smithsonian untuk Astrofisika di Cambridge, Massachusetts.
NASA Planet Detector
Para Bumi wahana Kepler-mengorbit secara khusus dirancang untuk menemukan planet di luar kita tata surya . Namun pada jarak seperti-TrES-2b, misalnya, 750 tahun cahaya dari kita-itu tidak sesederhana memotret dari dunia asing.
Sebaliknya, Kepler-menggunakan sensor cahaya disebut photometers yang terus memantau puluhan ribuan bintang-mencari reguler peredupan bintang.
Dips seperti dalam kecerahan bintang mungkin menunjukkan bahwa planet adalah transit, atau lewat di depan sebuah bintang, relatif terhadap Bumi, memblokir beberapa cahaya-dalam kasus planet batubara-hitam, menghalangi bintang sangat sedikit cahaya itu.
Planet Hitam Spurs dimmest dari Peredupan
Ketika sebuah planet lewat di depan bintangnya, sisi naungan wajah dunia Kepler. Tetapi sebagai planet mulai mengorbit ke sisi dan "belakang" bintangnya, bintang yang menghadap samping yang datang untuk menghadapi penonton. Jumlah cahaya bintang tumbuh sampai planet ini, menjadi tak terlihat Kepler, melewati sepenuhnya di belakang bintangnya.
Menonton TrES-2b dan bintangnya, Kepler terdeteksi hanya sedikit seperti peredupan dan cerah, meskipun cukup untuk memastikan bahwa gas raksasa Jupiter ukuran adalah penyebabnya.
Cahaya yang dipantulkan oleh planet ekstrasurya yang baru ditemukan, atau planet ekstrasurya, diubah oleh hanya sekitar 6,5 bagian per juta, relatif terhadap kecerahan bintang tuan rumah.
"Ini merupakan sinyal fotometrik terkecil yang kita pernah terdeteksi dari sebuah planet ekstrasurya," kata Kipping.
Apa lagi, sebagai planet batubara-hitam lewat di depan bintangnya, meredupkan cahaya bintang itu "begitu kecil bahwa itu seperti berenang di kecerahan kita akan melihat dengan lalat buah terjadi di depan lampu mobil."
Misteri Dark TrES-2b
Model komputer saat ini memprediksi bahwa panas-Jupiter-planet gas raksasa yang mengorbit sangat dekat dengan bintang-bisa mereka hanya gelap seperti Merkurius, yang mencerminkan sekitar 10 persen dari sinar matahari yang hits itu.
Tapi TrES-2b begitu gelap sehingga mencerminkan hanya satu persen dari cahaya bintang yang menyerang itu, menunjukkan bahwa model saat ini mungkin perlu tweaking, kata Kipping.
Dengan asumsi pengukuran studi baru adalah suara, apa sebenarnya yang membuat atmosfer planet baru begitu gelap?
"Beberapa telah mengusulkan bahwa kegelapan ini mungkin disebabkan oleh kelimpahan besar natrium gas dan titanium oksida," kata Kipping. "Tapi lebih mungkin ada sesuatu yang eksotis sana yang kita tidak pikirkan sebelumnya.
"Ini misteri yang saya temukan yang menarik tentang penemuan ini."
TrES-2b bahkan mungkin mewakili kelas baru seluruh planet-kemungkinan Kipping dan perusahaan berharap untuk diuji dengan Kepler, yang sejauh ini telah mendeteksi ratusan planet di luar tata surya kita.
"Sebagai Kepler menemukan planet lebih dan lebih dari hari ke hari, kita diharapkan dapat memindai melalui mereka dan bekerja keluar jika ini adalah unik atau jika semua hot Jupiters sangat gelap," kata Kipping.
Sementara itu, kegelapan yang sangat dari planet baru menunjukkan mungkin julukan catchier untuk TrES-2b, kata Kipping. "Mungkin julukan yang tepat akan Erebus" dewa-kuno Yunani kegelapan.
Penelitian planet batubara-hitam telah diterima untuk publikasi dalamPemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society .

gravatar

Mengapa Blob Ruang Raksasa Apakah Glowing-Misteri Terpecahkan?


Galaksi cahaya awan mengandung gas seperti kunang-kunang dalam stoples, studi kata.

The Lyman-alpha gumpalan LAB-1.

Gumpalan raksasa gas dalam ruang memancarkan cahaya yang intens, dan sekarang para astronom berpikir mereka tahu mengapa: awan ini penuh dengan galaksi .
Sering beberapa kali lebih besar dari galaksi Bima Sakti kita sendiri, Lyman-alpha gumpalan adalah beberapa objek terbesar yang diketahui di alam semesta. (Lihat "Raksasa 'Blob' Apakah Hal Terbesar di alam semesta." )
Gumpalan juga sangat terang, bersinar dengan intensitas yang sama seperti galaksi yang dikenal terang. Namun, benda cenderung ada dalam mencapai sangat jauh dari alam semesta, sehingga sumber daya yang tepat mereka telah misteri.
Untuk studi baru, para astronom mengamati, panjang keras, LAB-1 salah satu terbesar yang diketahui Lyman-alpha gumpalan. Ditemukan pada tahun 2000, LAB-1 adalah sekitar 300.000 tahun cahaya dan sangat jauh yang memakan waktu hampir cahaya 11,5 miliar tahun untuk mencapai kita.
Tim menemukan bahwa cahaya dari LAB-1 adalah terpolarisasi-yaitu, komponen magnetik dan listrik yang berorientasi pada arah tertentu relatif terhadap arah di mana perjalanan cahaya.
Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa gumpalan harus dinyalakan dari dalam, sebagai cahaya galaksi tersembunyi jadi tersebar di-dan dengan demikian terpolarisasi-oleh gelembung gas.
Blob Ruang Tengah Memiliki Light Source
Sebelum studi baru, ada dua teori utama untuk bagaimana Lyman-alpha yang dihasilkan gumpalan cahaya mereka. Satu ide adalah bahwa dingin, sebagian besar gas hidrogen akan ditarik dalam dari ruang sekitarnya oleh gravitasi yang kuat gumpalan, dan tindakan ini memanas gas.
Dalam skenario ini "gas itu sendiri memancarkan foton," atau partikel cahaya, menjelaskan studi penulis Claudia Scarlata , astrofisikawan di University of Minnesota.
"Atom-atom hidrogen memancarkan cahaya karena mereka pendingin Ini seperti besi panas dalam api menyala merah karena cools.."
Ide lainnya adalah bahwa cahaya berasal dari bintang-bintang , atau mungkin lubang hitam yang aktif, di sebuah galaksi atau galaksi di dalam gumpalan, seperti kunang-kunang di stoples.
Untuk menguji dua teori, tim yang digunakan Southern Eropa Observatory Very Large Telescope di Chile untuk memeriksa cahaya dari LAB-1 selama 15 jam.
Pengamatan tim menunjukkan bahwa cahaya dari gumpalan tersebut terpolarisasi dalam sebuah cincin di sekitar wilayah pusat.
"Agar cahaya yang akan terpolarisasi, foton harus memiliki directionality," kata Scarlata. "Mereka harus datang dari tempat yang sama-dalam hal ini, pusat gumpalan." Seperti perjalanan cahaya dari sumber pusat, hal itu akan tersebar oleh awan gas sekitarnya, menghasilkan polarisasi.
Efek ini akan sulit untuk menghasilkan jika cahaya gumpalan itu berasal dari gas infalling, tim mengatakan, sejak sumber cahaya akan tersebar di seluruh struktur dan tidak akan mendapatkan tersebar secara lokal.
Apakah gumpalan Galaksi Listrik Lainnya?
Untuk saat ini, meskipun, LAB-1 adalah gumpalan Lyman-alpha hanya dikenal bersinar dengan cahaya terpolarisasi, dan tidak jelas apakah temuan ini dapat diperluas ke gumpalan lainnya.
"Kita belum tahu," kata Scarlata. "Ini adalah eksperimen sulit dengan salah satu teleskop terbesar di Bumi, tapi kami sekarang sedang merencanakan untuk memperoleh data yang lebih di lain [gumpalan]."
Penelitian ruang-gumpalan yang rinci dalam seminggu masalah ini dari jurnalNature .